Rabu, 14 Maret 2012

Melangkah didalam Gelapanya Kehidupan

       Aku terdampar di piring kasong tanpa nasi, hanya terisi sendok garpu dan pisau daging yang menyilang, seakan ingin membelah mulut sampai ke dalam perut. Kepalapun pusing tak bisa tuk memutar arah. Kemana kehidupan bisa berlabuh di dermaganya. Pertanya'an selalu terlontar di benak hati, yang seakan mencari teman tuk berkosultasi. Angin dan debu selalu berteriak sombong dengan menampar muka dan mataku. Aku berjalan di pinggiran trotoar dengan menutup wajah sambil mencari ruang tuk mendinginkan emosi, semua sudah tertutup oleh kesombongan dan nafsu dunianya. Jalan masih panjang sedang trotoar terasa makin menyempit seakan tak ada jalan tuk menapakan telapak kaki, teras pertokoanpun tak bisa memayunginya dari silau matahari yang selalu menancap di pori-pori tubuh. Hidup seakan takberbagi, rasa seakan tak bernurani, hati padam serasa tak besinar dan tak bisa menerangi langkah kaki tuk berpijak.

Kehidupan bergumul dengan serakah yang mencekik leher pada insan yang lemah. Tanah liat sudah pada diracuni pandangan tanpa hati nurani. Adat istiadat dan sopan santun sudah mulai terkubur di sela keramaian bumi bahkan anak-anak pada bertanya "Siapa Orang Tua saya". Kepercaya'an dah mulai sirna bahkan hilang tertiup angin. Semua pada sirna seakan tanpa tumbuhan rumput sedikitpun. Yang tersisa hanyalah debu-debu dengan menri-nari di iringi musik angin yang kencang dengan tidak menghiraukan ada apa di sekitarnya.

      Matahari mulai menyongsong ke ufuk barat, pertanda malam mulai datang dan membuat lelapnya suasana. Didalam gelapnya hanyalah suara desiran angin dan tetesan embun yang bisa dinikmatinya. Gelap tidaklah terlihat arah tuk menunggu kapan datangnya hari esuk, yang ada hanyalah detak nadi menuju harapan matahari di esuk hari.

       Tubuh terlentang terkapar seakan pasrah pada keputusan pasang surutnya angin, bumi seakan memutar berbalik arah, rembulanpun tak tampak di malam hari karena takut bila matahari terbit dari ufuk barat. Aku bertanya "kapan bara api akan padam dan debu akan hilang" batu, kerikil dan pasir tak bisa menjawab.Semua pasrah pada gesekan angin dan air yang dimungkinkan akan datang dan kejenuhan akan menunggu jawaban yang tiada ujung. Semoga kesabaran, ketabahan dan semangat tetap setia mendampinginya untuk menunggu perputaran bumi berikutnya.

       Uraian ini suatu ungkapan insan picisan, bukan hisapan jempol dari kami tapi semua bersendi pada hati nuraninya orang-orang yang bijaksana dan tulus hati.

                                                                                     Cahyo Sumirat

0 komentar:

Posting Komentar